Oleh Drs.H.Isep Zaenal Arifin, M.Ag
Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Allah Swt., bahwa Dia akan mengasihi dan tidak menyiksa. Rasulullah Saw. bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah." (HR Muslim). Biasanya, saat menderita sakit, kita akan mengingat-Nya dan bertobat kepada-Nya untuk menjalani hidup lebih baik. Oleh karena itu, nasihat pokok setelah menikmati kesembuhan adalah teruslah konsisten dengan tobat dan janjinya tadi.
Suatu ketika Khawwât ibn Jabir terkena penyakit. Datanglah Rasulullah Saw. menjenguk kemudian menyapanya, “Kamu sudah sehat, wahai Khawwât.”
“Baginda juga sehat, wahai Rasulullah,” timpal Khawwât.
Rasul lantas memberinya nasihat, “Penuhilah janjimu kepada Allah”
“Aku tidak berjanji apa-apa kepada Allah ‘azza wa jalla,” jawab Khawwât heran.
Maka Nabi Saw. menjelaskan, “Ya, engkau memang berjanji. Sesungguhnya tidak ada seseorang yang sakit kecuali Allah ‘azza wa jalla memberinya kebaikan baru. Maka, penuhilah janjimu kepada Allah”.
Dengan demikian, selepas sembuh dari penyakit, hendaklah kita mengingat bisikan hati saat menderita sakit. Bisikan hati itu berupa rasa bersalah, keinginan bertobat dan rencana memperbaiki diri jika dikaruniai kesembuhan. Setelah kita menikmati kesembuhan, jangan lupa daratan dengan kembali berbuat maksiat. Orang yang bersyukur adalah yang selalu berusaha memegang janjinya untuk kebaikan-kebaikan hidup. Kalau pun penyakit yang kita derita tidak kunjung sembuh, jangan lantas mengingkari-Nya. Belajarlah kepada Nabi Ayub a.s yang tabah dengan musibah berupa penyakit yang lama sembuhnya.
Kisah kesabaran dan ketabahan Nabi Ayub a.s menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Swt. Ayub a.s adalah seorang saudagar kaya yang hidupnya sehat dan afiyat sehingga setan iri dan dengki dengan kesalehan Nabi Ayub a.s. maka setan mengajukan gugatan kepada Allah Swt. bahwa kesalehan Nabi Ayub a.s merupakan buah kekayaan, kesehatan, dan keharmonisan hidupnya.
Suatu ketika, lelaki yang diamanahkan Allah untuk mengemban misi ketuhanannya itu dicintai-Nya dengan penyakit yang sangat parah. Karena penyakitnya itu, Ayub a.s dijauhi sahabat dan kerabat. Mereka tidak tahan berdekatan lantaran takut tertular. Sebab, Allah Swt. mengujinya dengan mendatangkan penyakit yang tak kunjung sembuh bertahun-tahun. Hebatnya, dia tidak berkeluh kesah berlebihan tetapi semakin rajin beribadah kepada-Nya.
Nah, kecurigaan setan tidak terbukti. Sebab, ketika Nabi Ayub a.s berpenyakitan dan ditinggalkan keluarga; tidak mengubahnya menjadi hamba yang ingkar. Selama puluhan tahun penderitaan itu dihadapi dengan tabah dan sabar sambil berusaha mencari jalan melepaskan dirinya dari musibah yang menimpa. Sembari terus berobat, beliau tetap ikhlas bersimpuh di hadapan-Nya untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Tuhannya: beribadah.
Beliau tidak berputus asa ketika doanya lama dikabulkan. Dengan kesalehan dan keimanan yang kuat, akhirnya doa Ayub a.s dikabulkan Allah. Nabi Ayub a.s berdoa kepada Allah agar penyakitnya itu segera sembuh. "Ya Tuhanku! Aku mendapat penyakit dan cobaan dari setan” (QS Shaad: 41). Itulah bukti kuatnya pemahaman Ayub a.s terhadap ujian yang menimpa, bahwa hidup pasti akan melewati tahap penderitaan. Oleh karena itu, kehidupan mesti dipahami sebagai ruang dan jalan berkelok; di mana tidak akan ada yang hidup bebas dari ujian dan cobaan.
Kita, di dalam menjalankan aktivitas kehidupan, tidak lantas terhanyut dalam keputusasaan ketika ujian berupa penyakit menimpa. Ingat…, Dia (Allah) memberikan cobaan atau ujian sesuai dengan kadar keimanan. Fahamilah hidup sebagai kumpulan perjuangan untuk keluar dari penderitaan. Perjuangan keluar dari kesusahan, penderitaan, dan kesedihan. Artinya, semua yang terjadi, dipahami sebagai soal-soal ujian yang harus diisi untuk membuktikan kuatnya keimanan kita. Lulus ataukah tidak keimanan kita ketika terpaan musibah, ujian atau cobaan dalam bentuk penyakit menyerang hidupnya. Berpikir positiflah (husnudzan) kepada-Nya! Sebab dengan berpikir positif, akan terbentuk jiwa sekokoh baja seperti Ayub a.s yang dengan sabar dan tabah menghadapi penyakit selama bertahun-tahun.
Penulis, Ketua Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
Label: Artikel