Oleh SITTA R MUSLIMAH
Perilaku adalah sesuatu yang dilakukan, dikatakan, dilihat, dirasakan, dan didengar sebagai rangkaian aktivitas seseorang. Perilaku tentunya dapat diukur dengan mengetahui frekuensi, durasi, intensitas dan apa yang dihasilkannya.
Pun demikian, ketika kita ingin mengarahkan perilaku anak autistik ke arah yang sesuai dengan instruksi edukatif. Perilaku malas mengerjakan tugas-tugas sekolah - bagi anak yang masuk ke sekolah inklusi - dapat diarahkan kalau respon terhadap perilaku itu tepat.
Maka, bagi terapis anak berkebutuhan khusus (ABK), penting diperhatikan pengukur pola-pola perilaku anak autistik untuk mengetahui berhasil atau tidak latihan yang kita berikan. Dalam merespon suatu instruksi, misalnya, ada tiga kemungkinan yang direspon oleh anak yaitu tepat, tidak tepat atau tidak ada sama sekali. Apapun responnya terapis harus memberikan suatu konsekuensi yang sesuai dengan perilakunya.
Membenahi respon
Setiap perilaku terjadi dalam suatu rangkaian dan merupakan penghubung tercapainya keseluruhan tugas instruksi. Ketika kita membimbing anak autistik mengerjakan tugas pelajaran di rumah, misalnya, instruksi perlu disesuaikan dengan psikologis sang anak. Sebab, perilaku-perilaku tertentu menjadi penentu keberhasilan respon selanjutnya. Membenahi respon anak autistik agar sesuai dengan instruksi, anak perlu diberikan jeda waktu antara pemberian konsekuensi dan instruksi berikutnya supaya ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Kadang manipulasi stimulus dapat dilakukan untuk memperjelas, misalnya mengalihkan pandangan sebelum memberikan instruksi selanjutnya. Biasanya rentang waktu ini adalah sekitar 3-5 detik. Itulah yang disebut dengan rentang waktu antara konsekuensi dan instruksi berikutnya (inter trial interval). Sesudah anak bisa berespon secara baik atau hampir 80 persen trial bisa pada siklus yang menggunakan dua instruksi berbeda (misalnya pegang tangan dan pegang hidung) langkah selanjutnya adalah harus mengacak pemberian instruksi percobaan (trial) tersebut tidak lagi dalam rangkaian satu siklus.
Selain itu ketika melakukan bimbingan, kita harus mengeneralisasi, tujuannya untuk mengetahui materi yang sudah dikuasai oleh anak hingga tidak usah diajarkan secara berulang-ulang sehingga dapat menambahkan dan mengajarkan materi yang baru. Namun, materi yang sudah dikuasai sekali waktu harus diajarkan kembali supaya anak tidak lupa dan untuk mengingat kembali materi dulu yang telah anak kuasai.
Umpan balik atau konsekuensi
Konsekuensi adalah kejadian selanjutnya setelah perilaku tertentu terjadi. Konsekuensi mempengaruhi apakah perilaku tersebut berlangsung lagi atau tidak pada masa selanjutnya. Setiap perilaku harus diberi feedback (umpan balik). Konsistensi pemberian feedback sangat menentukan pada awal-awal sesi terapi anak autistik untuk memberikan arah dan tujuan dalam proses belajar anak. Pemberian umpan memberikan pengertian kepada anak atas perilaku yang ia hasilkan, misalnya, bukan perilaku itu yang tepat atau sebaliknya ‘perilaku kamu bagus sekali’.
Untuk mengarahkan perilaku agar sesuai dengan nilai-nilai edukatif, kita mesti memperkuatnya dengan positive reinforcement. Aturan dalam melakukannya harus sesegera mungkin, sesuai dengan kebutuhan anak, sedikit-singkat-kecil, harus bervariatif, mengombinasikannya dengan social reinforcement dan mendramatisasi. Bentuknya dapat berupa 5 macam, yaitu sensoris (peluk, gelitik), sosial (senyum, tepuk tangan, pujian), berwujud (makanan, minuman, mainan, buku), aktivitas (bernyanyi, lari-lari) dan waktu bebas (waktu untuk melakukan apa saja) (Wijaya, 2005: 60).
Lovaas (1981), berpendapat konsekuensi dapat dilakukan dengan beberapa metode dan cara, sebagai berikut: Pertama, informational no. Kata “tidak” yang diucapkan dengan nada datar dan biasa tanpa nada kecaman. Tujuannya memberi tahu anak bahwa responnya belum tepat. Kedua, reinforcer dilakukan kalau anak dapat melakukan sesuatu yang hampir benar, kita memberitahunya bahwa itu tepat. Katakan “bagus” dengan nada positif dan gembira (baik, oke, pintar, good, dll).
Ketiga, correctional no. Penggunaan kata “tidak” bisa bervariasi tergantung kebutuhan. Bila anak melakukan tindakan bahaya (diluar sesi terapi), tidak cukup terapis mengatakan “tidak” dengan nada datar. Karena tujuan kita menghentikan perilaku yang membahayakan tadi, maka dalam mengucapkan kata “tidak” harus lebih tegas dan memberi tekanan agar anak terkejut tanpa terkesan menakutkan. Pemberian correctional no harus bijaksana agar makna kata tadi tidak menjadi basi dan tidak disarankan pada sesi terapi.
Keempat, menggunakan “reward” (sering diartikan imbalan), bukan “reinforcer”. Bagi anak yang belum paham reinforcer sering digunakan makanan/minuman untuk memberikan pengertian bahwa perilaku itu benar. Berikanlah hadiah bila mereka merespon instruksi dengan perilaku yang tepat. Suatu respon dikatakan baik kalau anak langsung merespon (langsung terjadi), dan kriteria yang diucapkan harus sama dan bebas/bersih dari perilaku lain.
Perlu diperhatikan juga kalau anak merespon tanpa adanya pemberian instruksi, kita sebagai terapis harus memberikan suatu konsekuensi. Misalnya anak tanpa disuruh mau melihat kepada terapis, maka harus diberi konsekuensi positif “Eh, lihat ke ibu, ya! Pintar sekali”. Akhirul kalam, berikanlah instruksi bermuatan edukatif kepada anak berkebutuhan khusus. Dengan begitu, kita telah menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Wallahua’lam
Artikel ini dimuat Kompas Jawa Barat, Kamis 17 September 2009