29 September 2009

Oleh SUKRON ABDILAH

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah [2]:195).

Pemberdayaan ekonomi umat bisa dilakukan dengan jalan mengoptimalkan potensi zakat. Di Jawa Barat saja, potensi zakat harta (al-mal) mencapai 7,5 trliun per tahun. Namun, baru tergarap sekitar 78,5 miliar per tahun karena kesadaran masyarakat yang rendah dan belum dikelola secara maksimal. (PR/22/08/2009). Oleh karena itu, agenda mendesak bagi umat Islam, di Jawa Barat, sekarang adalah mengoptimalkan potensi ekonomi dalam syariat zakat.

Potensi zakat – saat kita sedang menunaikan ibadah puasa – mestinya diperhatikan oleh umat Islam. Zakat fitrah saja kalau dikelola secara baik akan membentuk ketahanan ekonomi bagi warga miskin, yang notabene berasal dari kalangan umat Islam.

Dengan pengelolaan yang profesional, jujur, dan produktif, zakat adalah formula hebat dalam menggempur kemiskinan. Dan, selang beberapa hari lagi, kita akan sampai pada penghujung bulan Ramadan. Idul Fitri semestinya merupakan hari kemenangan berbagai sisi kehidupan umat Islam, utamanya di bidang perekonomian.

Secara terminologis, zakat adalah istilah yang digunakan bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan syarat tertentu. Harta yang dikelarkan zakat, akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang (at-Taubah: 103, dan ar-Rum: 39).

Seperti halnya ketika kita hendak memakan buah pisang. Sebelum memakannya, kita mesti mengupas terlebih dahulu kulitnya, baru kemudian kita memakan daging pisang tersebut. Begitu pun dengan harta yang kita miliki. Di dalamnya ada hak atau kulit yang harus kita berikan sebagai prosesi membersihkan harta yang kita miliki. Ketika kita tidak mengeluarkan zakat, itu berarti kita seperti orang yang memakan buah pisang dengan kulit-kulitnya. Serakah nian, kalau ada orang yang memakan pisang dengan kulit-kulitnya.

Dalam aturan fiqh, zakat wajib dikeluarkan apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut: Pertama, harta dimiliki secara sah, berasal dari usaha, kerja, warisan, atau pemberian yang sah, yang dapat dipergunakan, diambil manfaatnya, atau disimpan. Di luar itu, seperti hasil korupsi, kolusi, suap, atau perbuatan tercela lainnya, tidak sah dan tak akan diterima zakatnya. Rasulullah Saw. bersabda Allah Swt. tidak akan menerima zakat atau sedekah dari harta yang ghulul (didapatkan dengan cara batil).

Kedua, harta yang berkembang dari hasil usaha, seperti perdagangan, peternakan, pertanian, deposito mudharabah, usaha bersama, obligasi, dan lain sebagainya. Ketiga, harta telah mencapai nisab, yakni mencapai ukuran tertentu. Misalnya, untuk hasil pertanian telah mencapai jumlah 653 kg, emas atau perak telah senilai 85 gram emas, perdagangan telah mencapai nilai 85 gram emas, peternakan sapi telah mencapai 30 ekor, dan sebagainya.

Keempat, harta melebihi kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan guna kelangsungan hidupnya. Kelima, harta mencapai satu tahun (haul) untuk harta-harta tertentu, seperti perdagangan. Tetapi, untuk zakat tanaman dikeluarkan zakat tiba musim panen (QS Al-An'am: 141).

Nah, apabila Anda memiliki harta sesuai persyaratan di atas, diwajibkan untuk mengeluarkan zakat. Namun, tidak menutupkemungkinan, kalau pun harta Anda belum memenuhi batas diwajibkannya zakat, kemudian ingin memberikannya kepada fakir miskin; sedekah dan infak adalah cara yang tepat. Infak ialah mengeluarkan sebagian dari harta atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.

Rasulullah Saw. menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-isteri, dan melakukan kegiatan amar ma'ruf nahi munkar adalah sedekah. (HR Muslim)

Akan tetapi, kata sedekah dalam Al-Quran sering digunakan untuk menyebut zakat (QS At-Taubah: 60 dan 103). Kalau Anda telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan untuk berinfak atau bersedekah. Berinfak adalah ciri utama orang yang bertakwa (al-Baqarah: 3 dan Ali Imran: 134), mukmin yang sungguh-sungguh imannya (al-Anfal: 3-4), mukmin yang mengharapkan keuntungan abadi (al-Faathir: 29).

Itulah kiranya landasan kenapa umat Islam diwajibkan berzakat. Bahkan, kendati harta kita belum memenuhi syarat wajib zakat, membiasakan diri sedekah dan infak adalah pesan, bahwa kita mesti berbagi dengan sesama. Apalagi, kalau dikelola secara profesional oleh sebuah lembaga, itu akan menjadi kekuatan bagi pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi. Di bidang pendidikan pun, zakat akan memberikan harapan bagi siswa dan siswi yang tidak mampu membiayai sekolahnya.

Harta kekayaan, ketika tidak dibersihkan, itu akan menjadi senjata makan tuan bagi keimanan kita. Seperti dibilang kang Jalal dalam bukunya, Reformasi Sufistik (Pustaka Hidayah, 2002), kalau anda kaya berhati-hatilah terkena sindrom Tsa'labah. Suatu penyakit hati yang tak sudi berbagi dengan sesama dan memberikan bagian Allah di dalam hartanya. Tak salah apabila ada ulama yang menyebut zakat berarti proses penyucian harta dari kotoran-kotoran hati yang bisa menjadikan manusia serakah seperti Qarun dan Fir'aun. Wallahua'lam

27 September 2009


Ramadan kini telah meninggalkan kita. Namun, suasananya masih tetap terasa. Bahkan masih menempel di katup pikir dan memori kesadaran setiap umat Islam, khususnya yang hidup dan berkarya di bumi Nusantara ini.

Pertanyaannya, akankah semangat keberagamaan kita pada bulan Syawal meningkat/ menguat sehingga memeroleh semacam kebahagiaan hidup, seperti dijanjikan Allah bagi orang yang menunaikan puasa?

Term “syawal” secara etimologis berarti peningkatan. Ini artinya di bulan syawal sisi keberagamaan kita mesti meningkat. Ramainya suasana keagamaan di bumi Nusantara tak seharusnya hanya ketika Ramadan hadir saja. Masjid penuh hanya saat Ramadan, pengajian pun sama, begitu juga dengan aktivitas politik. Tak seharusnya setelah Ramadan usai, kita melupakan semangat kenabian dalam seluruh gerak hidup ini. Kumandang takbir, tak hanya bersifat formalitas dan tekstual; melainkan dipahami secara substantif. Artinya, pengagungan terhadap Zat yang Maha Kuasa adalah proses tanpa henti.

Khalid Muhammad Khalid dalam buku, Tentara Langit di Karbala (Mizania, 2007), mengatakan kenabian berbeda dengan kerajaan. Kenabian lebih suci, jika dibandingkan dengan kerajaan yang dinastik. Sebab, kenabian berasal dari wahyu, bimbingan, dan keadilan. Sedangkan, kerajaan diinisiasi nafsu berkuasa dan ambisi membabi buta. Maka, kekuasaan yang dibingkai semangat kenabian semestinya bukan ladang pembantaian; bukan juga pencipta huru-hara, tapi sebuah amanah suci dari-Nya untuk mencipta keharmonisan.

Idulfitri kemarin, kesadaran kita dijentik. Bahwa berjibunnya masyarakat di depan pemerintahan DKI Jakarta hingga menelan korban luka adalah gambaran kemiskinan yang masih tetap ada di Indonesia. Mungkin Tuhan sedang menjentik eksistensi kita. Dia mencoba mengingatkan bahwa “ego keserakahan” sedemikian akut menyergap laku kita. Puasa yang seharusnya dijadikan ritual mengasah kepedulian, tidak kita hayati sungguh-sungguh.

Ribuan orang rela berdesak-desak dan saling menginjak hanya untuk uang 40 ribu. Heran saya, di tengah bulan kemenangan (syawal) kita tidak memenangkan pertarungan antara kesombongan dan kesederhanaan. Akibatnya, pembagian paket uang dilakukan di dalam sebuah kantor pemerintahan. Kalau saja kita memenangi pertempuran dengan kesombongan di bulan Ramadan, tidak ada salahnya kalau hendak membagi angpaw, dilakukan dari pintu ke pintu. Pemimpin yang baik adalah seorang manusia yang tidak mementingkan diri sendiri, namun mementingkan orang banyak.

Kali ini, dengan berusaha menyentuh relung hati kita yang terdalam. Cobalah sentuh hati kita dengan menumbuhkan kembali ’sense of crisis’ dalam diri. Kemiskinan ada karena masih berkeliaran “ego keserakahan” dalam diri segelintir manusia. Belenggu keserakahan sedemikian menggurita mencengkram jiwa, hingga pengemis pun dilarang di bumi Nusantara. Sedemikian serakahnya kita, hingga tak sudi memberikan uang receh bagi si miskin, yang siapa tahu mereka mengemis karena di negeri kita susah mencari pekerjaan? Susah mencari modal untuk membuka usaha? Bahkan, susah menjadi manusia sejahtera? Wallahua’lam



21 September 2009


Oleh AEP KUSNAWAN

Memperhatikan pemahaman ibadah sekarang ini, orang banyak memahaminya hanya sebatas perkara yang sempit, parsial dan bersifat ritual. Orang sering menganggap ibadah hanya sebatas perkara shalat, shaum, zakat dan haji. Sementara perkara di luar itu seolah terlepas dari lingkaran ibadah. Memang, pengertian dari pemahaman ibadah seperti itu sesuai dengan pendapat para ulama yang membagi ibadah kepada Ibadah Mahdzah (ibadah langsung kepada Allah) dan ibadah ghair mahdzah (Ibadah yang tak langsung atau yang berhubungan dengan sesama manusia). Namun yang terjadi justru pemahaman tersebut berakibat terhadap penyempitan pemahaman dan pengamalan ibadah hanya sebatas ibadah mahdzah saja.



Oeh SUKRON ABDILAH
 

Mudik atau pulang kampung menjelang Lebaran kini menjadi aktivitas kebudayaan yang menasional. Bukan bagi masyarakat pulau Jawa semata; melainkan hampir kebanyakan rakyat di Nusantara yang merantau selalu mudik meskipun ada kesulitan mengadang.
Kemacetan, misalnya, meskipun terus menjadi soal klasik bagi pemudik, tidak menyurutkan warga kampung untuk merehatkan diri di tempat muasalnya. Jadilah prosesi mudik sebagai puncak pengalaman religi bangsa Indonesia, sekaligus sebuah kebudayaan yang diinisiasi hari raya Idul Fitri.

20 September 2009



Oleh SITTA R MUSLIMAH


Perilaku adalah sesuatu yang dilakukan, dikatakan, dilihat, dirasakan, dan didengar sebagai rangkaian aktivitas seseorang. Perilaku tentunya dapat diukur dengan mengetahui frekuensi, durasi, intensitas dan apa yang dihasilkannya.

Pun demikian, ketika kita ingin mengarahkan perilaku anak autistik ke arah yang sesuai dengan instruksi edukatif. Perilaku malas mengerjakan tugas-tugas sekolah - bagi anak yang masuk ke sekolah inklusi - dapat diarahkan kalau respon terhadap perilaku itu tepat.

16 September 2009

Oleh SUKRON ABDILAH

Ma­nusia men­jadi saksi atas dirinya sendiri, walau­pun ia mengemukakan
dalih-dalihnya (QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15)

NURANI berasal dari kata nur, yang berarti cahaya. Jadi, nuraniyyun, ialah sesuatu yang bersifat cahaya. Menurut ahli tasawuf, manusia terdiri dari akal, hati, nurani, syahwat dan hawa nafsu. Akal untuk memecahkan masalah, hati untuk memahami realita, nurani adalah pandangan batin, syahwat penggerak tingkah laku atau motif, dan hawa nafsu ialah kekuatan membahayakan untuk menguji manusia.

Perangkat manusia tadi dipimpin hati, sehingga kalau hatinya baik, perilakunya juga baik. Sebaliknya, kalau hatinya buruk, perilakunya juga buruk. Makna nurani lebih dekat kepada hati, sehingga terkenal dengan istilah hati nurani. Sifatnya ruhaniah banget dan mengajak manusia agar berperilaku baik, membantunya mengatakan mana yang benar dan mana yang salah. Dia (nurani) bersemayam dalam diri semua orang. Nurani seseorang pada hakikatnya tidak pernah berbeda dengan nurani orang lain. Dengan kata lain, apa yang dirasa benar oleh nurani seseorang sebenarnya dirasa benar juga oleh orang lain asalkan berlaku kondisi dan situasi yang sama.

Allah Swt. berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang megotorinya” (QS Syams : 7-10). Nurani sebagai petunjuk jalan menuju kebenaran adalah ilham dari Allah. Melalui nurani, Allah membiarkan kita tahu sikap dan perilaku terbaik dan paling indah. Nurani menjadikan manusia mendapatkan petunjuk guna menempuh jalan yang benar dan lurus. Seseorang yang mau mendengar hati nurani-nya akan mencari jawaban dan menjelajahi apa yang terlihat di sekelilingnya untuk kebenaran. Seseorang yang telah mengembangkan kepekaan ini akan dengan mudah merasakan dirinya tinggal di sebuah dunia yang tercipta tanpa cacat (baca: bersyukur).

Armahedi Mahzar (1983: 33), mengatakan seorang individu selalu berusaha menyesuaikan dirinya dengan etika yang berlaku di masyarakat. Kesadaran terhadap dirinya adalah hasil dari proses “akali-qalbi-nurani” dalam mengurai apa yang terdapat dalam diri. Dengan akali atau intelektualita seseorang terus digunakan untuk berpikir tentang dirinya. Qalbi atau sensibilita diarahkan untuk terus merenungkan kepribadian yang ditunjukkan kepada lingkungan masyarakat. Sedangkan nurani atau moralita dijadikan upaya untuk memadukan akali dan qalbi dengan mengetengahkan prinsip-prinsip moral.

Berpadunya intelektualita, sensibilita dan moralita dalam kehidupanmu memang sangat penting dilakukan. Nu­rani sangat menentukan kadar keimanan dan akhlak manusia, karena dapat menangkal bisikan hati yang buruk (dzulmani). Ary Ginanjar Agustian misalnya, mengartikan nurani sebagai bisikan kebaikan universal dalam diri manusia untuk mengisi hidup dengan perilaku mulia. Menghormati nurani kita berarti terus-menerus menjalankan perilaku yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Ketika kita sedang berjalan di trotoar jalanan yang ramai dengan kendaraan, kemudian melihat nenek-nenek yang akan menyebrang. Muncullah bisikan dari hati untuk segera membantunya. Sederhananya, itulah yang disebut dengan nurani. Ada semacam niat untuk menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Begitu juga dengan keagamaan seseorang. Ketika kita mendengar dari sang ustadz bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ada dua bisikan hati: benar atau tidak. Apabila mengikuti hati nurani kita, akan mengikuti bisikan hati yang baik dan positif dalam meyakini sifat-sifat-Nya itu. Kita, tidak akan menolak dan menafikan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Tuhan penguasa alam. Tetapi manusia diberikan kebebasan untuk memilih bisikan-bisikan hatinya dengan syarat bertanggung jawab atas pilihannya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, Ma­nusia men­jadi saksi atas dirinya sendiri, walau­pun ia mengemukakan dalih-dalihnya (QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15). Ketika kita tidak mendengarkan dan melaksanakan apa yang dibisikan nurani, itu sama saja dengan memasung hak nurani untuk memberikan arahan dalam hidup. Pemasungan nurani men­cabut totalitas kita sebagai manusia. Karena itu, agama Islam menegaskan siapa yang berbuat baik, kebaikan itu kem­bali kepada dirinya sendiri. Demikianlah agama memberikan kebebasan sekaligus meletakkan tanggung jawab kepada setiap individu.

Mengetahui apakah bisikan hati terkategori nurani adalah dengan mengetahui apakah bisikan hati itu baik dan bermanfaat untuk orang banyak ataukah tidak. Sebab, kalau bisikan hati cenderung kepada bisikan buruk dan jahat, itu dinamakan dengan dzulmani (kegelapan diri). Kalau seorang guru memberikan kunci jawaban ketika ujian tengah berlangsung apakah itu berdasarkan nurani ataukah dzulmani? Kalau seorang pejabat Negara memafaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan kelompok, apakah itu didasari nurani ataukah dzulmani? Hanya orang yang memahamilah yang mampu melihat di balik setiap tindak-tanduk ada bisikan untuk melakukan kebajikan. Bukan untuk membuat orang di sekitar merasa tidak nyaman berada di sampingnya. Wallahua’lam

Penulis, Bergiat pada Institute for Religion and Future Analisys (Irfani) Bandung.

15 September 2009

Oleh AEP KUSNAWAN

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Al-Mu'min [23]: 60).

BULAN Ramadan selain bulan ampunan, bulan pembakaran dosa, juga bulan diijabahnya doa. Pada bulan ini, orang yang berpuasa akan diberi kemudahan mengetengahkan keinginan dan harapannya kepada sang Khalik. Ibadah puasa, kata Rasulullah Saw., diperuntukkan untuk Allah Swt., dan Dialah yang akan memberikan kemudahan.

Doa dan keimanan sangat terkait erat bagai dua sisi mata uang koin. Berdoa dan keimanan seseorang tak dapat dipisahkan. Sebab, berdoa merupakan salah satu kegiatan ibadah yang biasa dilakukan orang beriman. Sebaliknya, hanya mereka yang beriman, dalam arti percaya akan keberadaan Allah, yang senantiasa berdoa. Tanpa keyakinan pada Allah, seseorang tidak akan pernah berdoa. Itulah sebabnya Nabi menggambarkan doa sebagai intinya (saripati ) ibadah (mukhul ibadah).
      Jadi, doa merupakan tanda eksisnya keimanan, sebagai bentuk pengakuan atas segala keterbatasan kemampuan dalam melakukan apapun di dunia ini. Berdoa merupakan salah satu perbuatan ibadah. Melalui rangkaian firman-Nya dalam Al-Quran, Allah memerintahkan setiap manusia untuk senantiasa meminta, memohon, berdoa (hanya) kepada Allah.
      Berdoa merupakan salah satu bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Ia (doa) merupakan unsur yang melengkapi keutuhan beribadah seseorang. Sebab, dengan berdoa, seseorang telah meyakini sepenuhnya eksistensi Allah yang menjadi segala titik pusat perhatian segala tindak beribadah. Nabi Muhammad Saw., bersabda, “Doa sebagai senjata bagi orang-orang yang beriman,dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi ” (HR. Hakim dan Abu Ya'la).
      Sebagai inti ibadah, doa merupakan seruan kepada Allah, yang merupakan titik sentral dalam kesadaran manusia untuk beribadah kepada-Nya. Maka Allah pun menghargai doa seseorang, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Tidak ada satupun (amal hati) yang lebih mulia pada pandangan Allah dari pada doa.” Berdoa merupakan salah satu bentuk pengakuan kita sebagai orang yang beriman atas segala kemahakuasaan Allah.
      Sebab, dalam segala bentuk ihktiar yang dilakukan manusia, terdapat aspek keterlibatan Allah. Dengan demikian, doa secara sederhana, dapat dipandang sebagai usaha kita untuk memperoleh kesesuain antara pilihan-pilihan tindakan yang dilakukan dengan kehendak Allah. Karena itu doa kita menjadi tidak berarti apa-apa tanpa diikuti oleh usaha nyata sesuai dengan kehendak, seperti apa yang tersurat atau tersirat dalam doa yang dibaca.
      Sepintas doa terkesan berseberangan dengan konsep usaha (ikhtiar) yang diperintahkan oleh Allah. Berdoa sering digambarkan sebagai upaya menyerah (fatalistik) untuk menghindari beban usaha yang tidak mampu diusahakan. Padahal berdoa justru merupakan unsur pelengkap yang dapat memperkokoh proses ikhtiar yang dilakukan oleh kita. Dalam bahasa lain, doa merupakan ikhtiar spiritual dan penyemangat untuk mencapai apa yang diharapkan. Ia juga merupakan energi yang sangat hebat sebagai pembangkit harapan, semangat, serta jaminan untuk meraih apa yang diharapkan.
      Doa juga banyak dikaji dari berbagai perspektif. Salah-satunya dari aspek kesehatan, aktivitas, kreativitas dan produktivitas. Kita yang biasa berdoa merupakan sosok yang sehat jiwa. Kita akan memiliki harapan, tumpuan dan pelindung. Kita juga akan memiliki wawasan, pandangan dan jangkauan yang luas. Sebab dengan berdoa, berarti kita meyakini diri kita dekat dengan yang Maha segalanya, Allah SWT. Dalam kreativitas yang kita miliki, ada yang lebih Maha kreatif. Di balik rencana yang diprogramkan juga, meyakini bahwa ada yang Maha merencanakan. Di balik produktivitas yang kita hasilkan ada yang lebih Maha Menciptakan.
      Oleh karena itu, kita akan senantiasa memiliki kedewasaan, penuh imajinasi, ide, dan alat kontrol yang tinggi. Allah pasti akan menjawab semua permintaan orang yang mendekat kepada Allah, meskipun di luar jangkauan logika. Seperti saat Nabi Zakaria a.s mengharapkan sesuatu di luar perhitungan logika manusia. Bagaimana mungkin, Zakaria a.s ingin mempunyai anak, padahal dia sudah cukup lanjut usia, dan istrinya pun dalam keadaan mandul.
      Dengan kepasrahan total pada Zat yang Maha Mendengar, Zakaria a.s berdoa: “Tuhanku, aku cemas bila kelak sepeninggalku, tak ada keturunan yang mewarisiku. Tapi, istriku mandul dan aku pun sudah terlalu tua. Namun begitu, ya Rabbi, anugerahilah aku seorang anak”(QS Maryam [19]: 5).
      Di luar kemampuan akal manusia, Allah SWT mendengar rintihan doa Nabi Zakaria a.s. Kondisi biologis seperti yang dikeluhkan Zakaria a.s, bukan alasan untuk tidak mempunyai keturunan. Kemudian, dia diberi-Nya seorang anak bernama Yahya, yang juga menjadi Nabi bagi umat pada zamannya. Peristiwa ini diceritakan ulang dalam Al-Quran, surat Maryam ayat 5-7.
      Meskipun tidak seperti “lampu aladin”, doa akan tetap membuahkan makna bagi mereka yang mampu menggapai hakikat hubungan antara dirinya dan Allah. Begitu juga dengan kita, jika ingin mendapatkan berkah kemuliaan di bulan suci Ramadan, rajinlah berdoa. Bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena kita membutuhkannya. Berdoalah dengan ikhlas, khusuk, dan tidak putus-asa. Insyaallah bulan Ramadan akan menjadi bulan berkah dan saat diijabahnya doa. Wallahua'lam  
Penulis, Mahasiswa S.3 Pendidikan Islam, Pasca Sarjana UIN SGD Bandung. Staf Pengajar pada Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.




27 Juli 2009

Oleh Drs.H.Isep Zaenal Arifin, M.Ag

Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Allah Swt., bahwa Dia akan mengasihi dan tidak menyiksa. Rasulullah Saw. bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah." (HR Muslim). Biasanya, saat menderita sakit, kita akan mengingat-Nya dan bertobat kepada-Nya untuk menjalani hidup lebih baik. Oleh karena itu, nasihat pokok setelah menikmati kesembuhan adalah teruslah konsisten dengan tobat dan janjinya tadi.

Suatu ketika Khawwât ibn Jabir terkena penyakit. Datanglah Rasulullah Saw. menjenguk kemudian menyapanya, “Kamu sudah sehat, wahai Khawwât.”

“Baginda juga sehat, wahai Rasulullah,” timpal Khawwât.

Rasul lantas memberinya nasihat, “Penuhilah janjimu kepada Allah”

“Aku tidak berjanji apa-apa kepada Allah ‘azza wa jalla,” jawab Khawwât heran.

Maka Nabi Saw. menjelaskan, “Ya, engkau memang berjanji. Sesungguhnya tidak ada seseorang yang sakit kecuali Allah ‘azza wa jalla memberinya kebaikan baru. Maka, penuhilah janjimu kepada Allah”.

Dengan demikian, selepas sembuh dari penyakit, hendaklah kita mengingat bisikan hati saat menderita sakit. Bisikan hati itu berupa rasa bersalah, keinginan bertobat dan rencana memperbaiki diri jika dikaruniai kesembuhan. Setelah kita menikmati kesembuhan, jangan lupa daratan dengan kembali berbuat maksiat. Orang yang bersyukur adalah yang selalu berusaha memegang janjinya untuk kebaikan-kebaikan hidup. Kalau pun penyakit yang kita derita tidak kunjung sembuh, jangan lantas mengingkari-Nya. Belajarlah kepada Nabi Ayub a.s yang tabah dengan musibah berupa penyakit yang lama sembuhnya.

Kisah kesabaran dan ketabahan Nabi Ayub a.s menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Swt. Ayub a.s adalah seorang saudagar kaya yang hidupnya sehat dan afiyat sehingga setan iri dan dengki dengan kesalehan Nabi Ayub a.s. maka setan mengajukan gugatan kepada Allah Swt. bahwa kesalehan Nabi Ayub a.s merupakan buah kekayaan, kesehatan, dan keharmonisan hidupnya.

Suatu ketika, lelaki yang diamanahkan Allah untuk mengemban misi ketuhanannya itu dicintai-Nya dengan penyakit yang sangat parah. Karena penyakitnya itu, Ayub a.s dijauhi sahabat dan kerabat. Mereka tidak tahan berdekatan lantaran takut tertular. Sebab, Allah Swt. mengujinya dengan mendatangkan penyakit yang tak kunjung sembuh bertahun-tahun. Hebatnya, dia tidak berkeluh kesah berlebihan tetapi semakin rajin beribadah kepada-Nya.

Nah, kecurigaan setan tidak terbukti. Sebab, ketika Nabi Ayub a.s berpenyakitan dan ditinggalkan keluarga; tidak mengubahnya menjadi hamba yang ingkar. Selama puluhan tahun penderitaan itu dihadapi dengan tabah dan sabar sambil berusaha mencari jalan melepaskan dirinya dari musibah yang menimpa. Sembari terus berobat, beliau tetap ikhlas bersimpuh di hadapan-Nya untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Tuhannya: beribadah.

Beliau tidak berputus asa ketika doanya lama dikabulkan. Dengan kesalehan dan keimanan yang kuat, akhirnya doa Ayub a.s dikabulkan Allah. Nabi Ayub a.s berdoa kepada Allah agar penyakitnya itu segera sembuh. "Ya Tuhanku! Aku mendapat penyakit dan cobaan dari setan” (QS Shaad: 41). Itulah bukti kuatnya pemahaman Ayub a.s terhadap ujian yang menimpa, bahwa hidup pasti akan melewati tahap penderitaan. Oleh karena itu, kehidupan mesti dipahami sebagai ruang dan jalan berkelok; di mana tidak akan ada yang hidup bebas dari ujian dan cobaan.

Kita, di dalam menjalankan aktivitas kehidupan, tidak lantas terhanyut dalam keputusasaan ketika ujian berupa penyakit menimpa. Ingat…, Dia (Allah) memberikan cobaan atau ujian sesuai dengan kadar keimanan. Fahamilah hidup sebagai kumpulan perjuangan untuk keluar dari penderitaan. Perjuangan keluar dari kesusahan, penderitaan, dan kesedihan. Artinya, semua yang terjadi, dipahami sebagai soal-soal ujian yang harus diisi untuk membuktikan kuatnya keimanan kita. Lulus ataukah tidak keimanan kita ketika terpaan musibah, ujian atau cobaan dalam bentuk penyakit menyerang hidupnya. Berpikir positiflah (husnudzan) kepada-Nya! Sebab dengan berpikir positif, akan terbentuk jiwa sekokoh baja seperti Ayub a.s yang dengan sabar dan tabah menghadapi penyakit selama bertahun-tahun.

Penulis, Ketua Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.



;;