Oleh SUKRON ABDILAH
Label: Artikel
Label: Artikel
Label: Artikel
Oleh SUKRON ABDILAH
Manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, walaupun ia mengemukakan
dalih-dalihnya (QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15)
NURANI berasal dari kata nur, yang berarti cahaya. Jadi, nuraniyyun, ialah sesuatu yang bersifat cahaya. Menurut ahli tasawuf, manusia terdiri dari akal, hati, nurani, syahwat dan hawa nafsu. Akal untuk memecahkan masalah, hati untuk memahami realita, nurani adalah pandangan batin, syahwat penggerak tingkah laku atau motif, dan hawa nafsu ialah kekuatan membahayakan untuk menguji manusia.
Perangkat manusia tadi dipimpin hati, sehingga kalau hatinya baik, perilakunya juga baik. Sebaliknya, kalau hatinya buruk, perilakunya juga buruk. Makna nurani lebih dekat kepada hati, sehingga terkenal dengan istilah hati nurani. Sifatnya ruhaniah banget dan mengajak manusia agar berperilaku baik, membantunya mengatakan mana yang benar dan mana yang salah. Dia (nurani) bersemayam dalam diri semua orang. Nurani seseorang pada hakikatnya tidak pernah berbeda dengan nurani orang lain. Dengan kata lain, apa yang dirasa benar oleh nurani seseorang sebenarnya dirasa benar juga oleh orang lain asalkan berlaku kondisi dan situasi yang sama.
Allah Swt. berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang megotorinya” (QS Syams : 7-10). Nurani sebagai petunjuk jalan menuju kebenaran adalah ilham dari Allah. Melalui nurani, Allah membiarkan kita tahu sikap dan perilaku terbaik dan paling indah. Nurani menjadikan manusia mendapatkan petunjuk guna menempuh jalan yang benar dan lurus. Seseorang yang mau mendengar hati nurani-nya akan mencari jawaban dan menjelajahi apa yang terlihat di sekelilingnya untuk kebenaran. Seseorang yang telah mengembangkan kepekaan ini akan dengan mudah merasakan dirinya tinggal di sebuah dunia yang tercipta tanpa cacat (baca: bersyukur).
Armahedi Mahzar (1983: 33), mengatakan seorang individu selalu berusaha menyesuaikan dirinya dengan etika yang berlaku di masyarakat. Kesadaran terhadap dirinya adalah hasil dari proses “akali-qalbi-nurani” dalam mengurai apa yang terdapat dalam diri. Dengan akali atau intelektualita seseorang terus digunakan untuk berpikir tentang dirinya. Qalbi atau sensibilita diarahkan untuk terus merenungkan kepribadian yang ditunjukkan kepada lingkungan masyarakat. Sedangkan nurani atau moralita dijadikan upaya untuk memadukan akali dan qalbi dengan mengetengahkan prinsip-prinsip moral.
Berpadunya intelektualita, sensibilita dan moralita dalam kehidupanmu memang sangat penting dilakukan. Nurani sangat menentukan kadar keimanan dan akhlak manusia, karena dapat menangkal bisikan hati yang buruk (dzulmani). Ary Ginanjar Agustian misalnya, mengartikan nurani sebagai bisikan kebaikan universal dalam diri manusia untuk mengisi hidup dengan perilaku mulia. Menghormati nurani kita berarti terus-menerus menjalankan perilaku yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Ketika kita sedang berjalan di trotoar jalanan yang ramai dengan kendaraan, kemudian melihat nenek-nenek yang akan menyebrang. Muncullah bisikan dari hati untuk segera membantunya. Sederhananya, itulah yang disebut dengan nurani. Ada semacam niat untuk menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Begitu juga dengan keagamaan seseorang. Ketika kita mendengar dari sang ustadz bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ada dua bisikan hati: benar atau tidak. Apabila mengikuti hati nurani kita, akan mengikuti bisikan hati yang baik dan positif dalam meyakini sifat-sifat-Nya itu. Kita, tidak akan menolak dan menafikan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Tuhan penguasa alam. Tetapi manusia diberikan kebebasan untuk memilih bisikan-bisikan hatinya dengan syarat bertanggung jawab atas pilihannya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, Manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, walaupun ia mengemukakan dalih-dalihnya (QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15). Ketika kita tidak mendengarkan dan melaksanakan apa yang dibisikan nurani, itu sama saja dengan memasung hak nurani untuk memberikan arahan dalam hidup. Pemasungan nurani mencabut totalitas kita sebagai manusia. Karena itu, agama Islam menegaskan siapa yang berbuat baik, kebaikan itu kembali kepada dirinya sendiri. Demikianlah agama memberikan kebebasan sekaligus meletakkan tanggung jawab kepada setiap individu.
Mengetahui apakah bisikan hati terkategori nurani adalah dengan mengetahui apakah bisikan hati itu baik dan bermanfaat untuk orang banyak ataukah tidak. Sebab, kalau bisikan hati cenderung kepada bisikan buruk dan jahat, itu dinamakan dengan dzulmani (kegelapan diri). Kalau seorang guru memberikan kunci jawaban ketika ujian tengah berlangsung apakah itu berdasarkan nurani ataukah dzulmani? Kalau seorang pejabat Negara memafaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan kelompok, apakah itu didasari nurani ataukah dzulmani? Hanya orang yang memahamilah yang mampu melihat di balik setiap tindak-tanduk ada bisikan untuk melakukan kebajikan. Bukan untuk membuat orang di sekitar merasa tidak nyaman berada di sampingnya. Wallahua’lam
Penulis, Bergiat pada Institute for Religion and Future Analisys (Irfani) Bandung.
Label: Artikel
Oleh AEP KUSNAWAN
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Al-Mu'min [23]: 60).
BULAN Ramadan selain bulan ampunan, bulan pembakaran dosa, juga bulan diijabahnya doa. Pada bulan ini, orang yang berpuasa akan diberi kemudahan mengetengahkan keinginan dan harapannya kepada sang Khalik. Ibadah puasa, kata Rasulullah Saw., diperuntukkan untuk Allah Swt., dan Dialah yang akan memberikan kemudahan.
Doa dan keimanan sangat terkait erat bagai dua sisi mata uang koin. Berdoa dan keimanan seseorang tak dapat dipisahkan. Sebab, berdoa merupakan salah satu kegiatan ibadah yang biasa dilakukan orang beriman. Sebaliknya, hanya mereka yang beriman, dalam arti percaya akan keberadaan Allah, yang senantiasa berdoa. Tanpa keyakinan pada Allah, seseorang tidak akan pernah berdoa. Itulah sebabnya Nabi menggambarkan doa sebagai intinya (saripati ) ibadah (mukhul ibadah).
Jadi, doa merupakan tanda eksisnya keimanan, sebagai bentuk pengakuan atas segala keterbatasan kemampuan dalam melakukan apapun di dunia ini. Berdoa merupakan salah satu perbuatan ibadah. Melalui rangkaian firman-Nya dalam Al-Quran, Allah memerintahkan setiap manusia untuk senantiasa meminta, memohon, berdoa (hanya) kepada Allah.
Berdoa merupakan salah satu bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Ia (doa) merupakan unsur yang melengkapi keutuhan beribadah seseorang. Sebab, dengan berdoa, seseorang telah meyakini sepenuhnya eksistensi Allah yang menjadi segala titik pusat perhatian segala tindak beribadah. Nabi Muhammad Saw., bersabda, “Doa sebagai senjata bagi orang-orang yang beriman,dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi ” (HR. Hakim dan Abu Ya'la).
Sebagai inti ibadah, doa merupakan seruan kepada Allah, yang merupakan titik sentral dalam kesadaran manusia untuk beribadah kepada-Nya. Maka Allah pun menghargai doa seseorang, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Tidak ada satupun (amal hati) yang lebih mulia pada pandangan Allah dari pada doa.” Berdoa merupakan salah satu bentuk pengakuan kita sebagai orang yang beriman atas segala kemahakuasaan Allah.
Sebab, dalam segala bentuk ihktiar yang dilakukan manusia, terdapat aspek keterlibatan Allah. Dengan demikian, doa secara sederhana, dapat dipandang sebagai usaha kita untuk memperoleh kesesuain antara pilihan-pilihan tindakan yang dilakukan dengan kehendak Allah. Karena itu doa kita menjadi tidak berarti apa-apa tanpa diikuti oleh usaha nyata sesuai dengan kehendak, seperti apa yang tersurat atau tersirat dalam doa yang dibaca.
Sepintas doa terkesan berseberangan dengan konsep usaha (ikhtiar) yang diperintahkan oleh Allah. Berdoa sering digambarkan sebagai upaya menyerah (fatalistik) untuk menghindari beban usaha yang tidak mampu diusahakan. Padahal berdoa justru merupakan unsur pelengkap yang dapat memperkokoh proses ikhtiar yang dilakukan oleh kita. Dalam bahasa lain, doa merupakan ikhtiar spiritual dan penyemangat untuk mencapai apa yang diharapkan. Ia juga merupakan energi yang sangat hebat sebagai pembangkit harapan, semangat, serta jaminan untuk meraih apa yang diharapkan.
Doa juga banyak dikaji dari berbagai perspektif. Salah-satunya dari aspek kesehatan, aktivitas, kreativitas dan produktivitas. Kita yang biasa berdoa merupakan sosok yang sehat jiwa. Kita akan memiliki harapan, tumpuan dan pelindung. Kita juga akan memiliki wawasan, pandangan dan jangkauan yang luas. Sebab dengan berdoa, berarti kita meyakini diri kita dekat dengan yang Maha segalanya, Allah SWT. Dalam kreativitas yang kita miliki, ada yang lebih Maha kreatif. Di balik rencana yang diprogramkan juga, meyakini bahwa ada yang Maha merencanakan. Di balik produktivitas yang kita hasilkan ada yang lebih Maha Menciptakan.
Oleh karena itu, kita akan senantiasa memiliki kedewasaan, penuh imajinasi, ide, dan alat kontrol yang tinggi. Allah pasti akan menjawab semua permintaan orang yang mendekat kepada Allah, meskipun di luar jangkauan logika. Seperti saat Nabi Zakaria a.s mengharapkan sesuatu di luar perhitungan logika manusia. Bagaimana mungkin, Zakaria a.s ingin mempunyai anak, padahal dia sudah cukup lanjut usia, dan istrinya pun dalam keadaan mandul.
Dengan kepasrahan total pada Zat yang Maha Mendengar, Zakaria a.s berdoa: “Tuhanku, aku cemas bila kelak sepeninggalku, tak ada keturunan yang mewarisiku. Tapi, istriku mandul dan aku pun sudah terlalu tua. Namun begitu, ya Rabbi, anugerahilah aku seorang anak”(QS Maryam [19]: 5).
Di luar kemampuan akal manusia, Allah SWT mendengar rintihan doa Nabi Zakaria a.s. Kondisi biologis seperti yang dikeluhkan Zakaria a.s, bukan alasan untuk tidak mempunyai keturunan. Kemudian, dia diberi-Nya seorang anak bernama Yahya, yang juga menjadi Nabi bagi umat pada zamannya. Peristiwa ini diceritakan ulang dalam Al-Quran, surat Maryam ayat 5-7.
Meskipun tidak seperti “lampu aladin”, doa akan tetap membuahkan makna bagi mereka yang mampu menggapai hakikat hubungan antara dirinya dan Allah. Begitu juga dengan kita, jika ingin mendapatkan berkah kemuliaan di bulan suci Ramadan, rajinlah berdoa. Bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena kita membutuhkannya. Berdoalah dengan ikhlas, khusuk, dan tidak putus-asa. Insyaallah bulan Ramadan akan menjadi bulan berkah dan saat diijabahnya doa. Wallahua'lam
Penulis, Mahasiswa S.3 Pendidikan Islam, Pasca Sarjana UIN SGD Bandung. Staf Pengajar pada Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
Label: Artikel
Oleh Drs.H.Isep Zaenal Arifin, M.Ag
Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Allah Swt., bahwa Dia akan mengasihi dan tidak menyiksa. Rasulullah Saw. bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah." (HR Muslim). Biasanya, saat menderita sakit, kita akan mengingat-Nya dan bertobat kepada-Nya untuk menjalani hidup lebih baik. Oleh karena itu, nasihat pokok setelah menikmati kesembuhan adalah teruslah konsisten dengan tobat dan janjinya tadi.
Suatu ketika Khawwât ibn Jabir terkena penyakit. Datanglah Rasulullah Saw. menjenguk kemudian menyapanya, “Kamu sudah sehat, wahai Khawwât.”
“Baginda juga sehat, wahai Rasulullah,” timpal Khawwât.
Rasul lantas memberinya nasihat, “Penuhilah janjimu kepada Allah”
“Aku tidak berjanji apa-apa kepada Allah ‘azza wa jalla,” jawab Khawwât heran.
Maka Nabi Saw. menjelaskan, “Ya, engkau memang berjanji. Sesungguhnya tidak ada seseorang yang sakit kecuali Allah ‘azza wa jalla memberinya kebaikan baru. Maka, penuhilah janjimu kepada Allah”.
Dengan demikian, selepas sembuh dari penyakit, hendaklah kita mengingat bisikan hati saat menderita sakit. Bisikan hati itu berupa rasa bersalah, keinginan bertobat dan rencana memperbaiki diri jika dikaruniai kesembuhan. Setelah kita menikmati kesembuhan, jangan lupa daratan dengan kembali berbuat maksiat. Orang yang bersyukur adalah yang selalu berusaha memegang janjinya untuk kebaikan-kebaikan hidup. Kalau pun penyakit yang kita derita tidak kunjung sembuh, jangan lantas mengingkari-Nya. Belajarlah kepada Nabi Ayub a.s yang tabah dengan musibah berupa penyakit yang lama sembuhnya.
Kisah kesabaran dan ketabahan Nabi Ayub a.s menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Swt. Ayub a.s adalah seorang saudagar kaya yang hidupnya sehat dan afiyat sehingga setan iri dan dengki dengan kesalehan Nabi Ayub a.s. maka setan mengajukan gugatan kepada Allah Swt. bahwa kesalehan Nabi Ayub a.s merupakan buah kekayaan, kesehatan, dan keharmonisan hidupnya.
Suatu ketika, lelaki yang diamanahkan Allah untuk mengemban misi ketuhanannya itu dicintai-Nya dengan penyakit yang sangat parah. Karena penyakitnya itu, Ayub a.s dijauhi sahabat dan kerabat. Mereka tidak tahan berdekatan lantaran takut tertular. Sebab, Allah Swt. mengujinya dengan mendatangkan penyakit yang tak kunjung sembuh bertahun-tahun. Hebatnya, dia tidak berkeluh kesah berlebihan tetapi semakin rajin beribadah kepada-Nya.
Nah, kecurigaan setan tidak terbukti. Sebab, ketika Nabi Ayub a.s berpenyakitan dan ditinggalkan keluarga; tidak mengubahnya menjadi hamba yang ingkar. Selama puluhan tahun penderitaan itu dihadapi dengan tabah dan sabar sambil berusaha mencari jalan melepaskan dirinya dari musibah yang menimpa. Sembari terus berobat, beliau tetap ikhlas bersimpuh di hadapan-Nya untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Tuhannya: beribadah.
Beliau tidak berputus asa ketika doanya lama dikabulkan. Dengan kesalehan dan keimanan yang kuat, akhirnya doa Ayub a.s dikabulkan Allah. Nabi Ayub a.s berdoa kepada Allah agar penyakitnya itu segera sembuh. "Ya Tuhanku! Aku mendapat penyakit dan cobaan dari setan” (QS Shaad: 41). Itulah bukti kuatnya pemahaman Ayub a.s terhadap ujian yang menimpa, bahwa hidup pasti akan melewati tahap penderitaan. Oleh karena itu, kehidupan mesti dipahami sebagai ruang dan jalan berkelok; di mana tidak akan ada yang hidup bebas dari ujian dan cobaan.
Kita, di dalam menjalankan aktivitas kehidupan, tidak lantas terhanyut dalam keputusasaan ketika ujian berupa penyakit menimpa. Ingat…, Dia (Allah) memberikan cobaan atau ujian sesuai dengan kadar keimanan. Fahamilah hidup sebagai kumpulan perjuangan untuk keluar dari penderitaan. Perjuangan keluar dari kesusahan, penderitaan, dan kesedihan. Artinya, semua yang terjadi, dipahami sebagai soal-soal ujian yang harus diisi untuk membuktikan kuatnya keimanan kita. Lulus ataukah tidak keimanan kita ketika terpaan musibah, ujian atau cobaan dalam bentuk penyakit menyerang hidupnya. Berpikir positiflah (husnudzan) kepada-Nya! Sebab dengan berpikir positif, akan terbentuk jiwa sekokoh baja seperti Ayub a.s yang dengan sabar dan tabah menghadapi penyakit selama bertahun-tahun.
Penulis, Ketua Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
Label: Artikel