Label: KSP
1. DASAR PEMIKIRAN
Era persaingan global dewasa ini cenderung lebih banyak dipersepsi dan dimaknai orang hanya dalam nuansa persoalan ekonomi dan politik semata dibandingkan dengan kalkulasi sosial. Hal ini melahirkan ekses pada semakin kompleksnya permasalahan sosial, baik yang bersifat konvensional maupun kontemporer. Permasalahan tersebut dapat ditangani secara efektif, apabila pendekatan holistik dan komprehensif. Pekerja sosial adalah salah satu profesi yang berkompeten mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.
Permasalahan yang semakin Pekerja Spesialis (Specialized/Skilled Social Worker) yang memiliki esialisasi keahlian masalah-asalah sosial. Spesialisasi keahlian tersebut mensyaratkan penggunaan pendekatan yang mengintegrasikan sistem, metoda-metoda lanjutan dengan tehnik–tehnik yang secara empiris tervalidasi serta menggunakan kerangka kerja yang bersifat holistik dan eklektik.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka diperlukanlah suatu kelompok studi profesi untuk memenuhi kebutuhan akan penanganan permasalahan social tersebut. Kelompok Studi Profesi (KSP) Bimbingan dan penyuluhan Islam Fakultas dakwah UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah salah satu bagian integral dari jurusan Bpi yang berkonsentrasi mencetak calon professional dalam penenganan permasalahan social yang diakibatkan oleh penyelahgunaan oleh Narkoba.
1. VISI
Menjadikan KSP Narkoba BPI UIN SGD Bandung yang menghasilkan pekerja social yang professional dalam penanganan penyalahgunaan Narkoba.
1. MISI
1. Menyelenggarakan diskusi tefokus yang berbobot praktik
2. Menghasilkan calon-calon tenaga terampil di bidang bimbingan dan penyuluhan terhadap korban penyalah gunan narkoba.
1. Satuan Mata Kuliah KSP Narkoba
1. Rumpun Psikologi
• Psikologi sosial
• Case Management and Asesment Sosial
• HBSE (Human Behavior in Social Enviroment)
Indicator sosial
• Psikopatologi & DSM (The Diagnostic and Statistical Mannual of Mental Disorder)
2. Rumpun Ke-BPI-an
• Konseling Psikososial
• Strategi dan Management Penyuluhan
• Riset Konseling
3. Rumpun Narkoba
• Narkoba dan jenis-jenisnya
• Akibat penyalah gunaan narkoba
• Cirri-ciri pecandu narkoba
4.Rumpun Keahlian
• Praktik Bimbingan terhadap korban penyalahgunaan Narkoba
• Praktik Penyuluhan Anti Narkoba
• Praktik Konseling penanggulangan korban Narkoba.
1. Penutup
Demikianlah sekelimut materi kajian yang kan disampaikan dalam satuan kegiatan KSP Narkoba BPI UIN SGD Bandung. Penyusun menerima saran dan kritik penyempurnaan rancangan satuan kajian KSP.
Team Perumus :
Kordinator : Triyana Hidayat, S.Sos.I
Asisten Ahli : “Mang Fai” Thea
Sekretarsi Eksekutif : Thamrin “Adul”
Label: KSP
KSK atau Kelompok Studi Kreatif ialah suatu sistem yang diformat untuk merakit sumber daya manusia yang kreatif, dinamis, ikhlash, ingin maju dan berwawasan ke depan. Ia merupakan gagasan dalam rangka mendorong berkembangnya budaya akademik, yang nampaknya kini masih jauh bandingannya dari budaya politis. Disamping ia juga dapat memacu kreativitas dan produktivitas intelektual, khususnya di kalangan akademisi, serta pemasaran produk intelektual itu ke tengah masyarakat.
Melalui KSK juga, diupayakan sebagai wahana pengenalan terhadap dunia luar, yang kelak mampu diharapkan terjalinnya hubungan kerjasama dengan beberapa pihak terkait, dengan prospek yang saling menguntungkan.
Disamping terkait juga dalam turut merintis profesionalisme dan lapangan kerja bagi siapa saja yang menggelutinya. penataan wadah KSK, perekrutan peserta bimbingan, pelaksanaan kegiatan internal, pelaksanaan kegiatan eksternal, dan pengembangan.
1. Latar Belakang KSK
a. Kekuatan
Jika dicermati lebih seksama, peminat untuk pengembangan potensi mahasiswa di bidang akademik yang berbasis profesi, dewasa ini berkembang relatif semakin besar. Sementara jika diupayakan, keberadaan tenaga pembimbing pun, baik alumni maupun dosen nampaknya bisa memadai. Sementara untuk peluang kerjasama dengan pihak terkait juga sangat terbuka untuk dijajaki.
b. Kelemahan:
Sampai saat ini, nampaknya belum ada suatu pola pengembangan potensi yang dapat dikembangkan secara swa-mandiri dalam bidang akademik oleh mahasiswa. Sementara potensi yang ada, masih memerlukan adanya bimbingan, binaan dan pengembangan.
Karena keadaan demikian, maka berbagai potensi yang ada (baik mahasiswa, BEM, alumni, maupun para dosen dan unit kerjasama), masih belum cukup termanfaatkan, sebagai lahan pengembangan budaya akademik. Kondisi ini juga ditunjang oleh belum optimalnya pemanfaatan sistem kerjasama internal jurusan maupun eksternal yang dibuat secara konkret dan saling menguntungkan. Ini berarti pula masih membuka peluang untuk adanya terobosan-terobosan baru.
c. Peluang:
Keberadaan suatu perguruan tinggi yang memiliki Tri Dharma, pada dasarnya merupakan “gudangnya” konsep-konsep. Sehingga wajar jika, berbagai sumber daya yang ada di suatu perguruan tinggi, dapat memberikan akses intelektualnya ke masyarakat. Salah satu cara untuk itu, insan akademisnya terlibat dalam pengenalan dan pengembangan profesionalitas jurusan. Sementara berbagai sumber daya yang ada di dalamnya diberi motivasi, pembinaan, bimbingan, pelatihan dan pengembangan di bidang profesi masing-masing, yang tidak hanya untuk pengerjaan tugas-tugas, tetapi juga untuk dikenalkan dengan dunia nyata.
Saat ini, berbagai lahan pengenalan garapan profesi BPI ada di berbagai tempat. Sementara itu, adanya sejumlah dosen muda dan alumni praktisi, juga merupakan peluang untuk dapat dimintai kesediannya untuk membantu program pengembangan KSK.
d. Tantangan:
Memasuki era informasi dan globalisasi, profesinalitas civitas akademika, suatu jurusan di perguruan tinggi sangat dinantikan masyarakat. Antara lain, dengan itu pula masyarakat dapat menilai kualitas suatu jurusan di perguruan tinggi.
e. Alternatif:
Sebagai jalan keluarnya, sudah saatnya diadakan suasana yang mengarah pada terciptanya iklim akademis, yang memberikan motivasi kepada kegairahan mengembangkan minat, bakat dan budaya akademik. Disamping adanya suatu pola latihan dan bimbingan yang sistemik, yang mengarah kepada penumbuhkembangan skill mahasiswa di bidang profesi yang digandrungi. Selain itu, diperlukan juga adanya suatu sistem kerjasama dengan pihak luar, yang akan saling menguntungkan. Pola itu sebaiknya dapat dikembangkan dari dan oleh mahasiswa secara kreatif, melalui kelompok-kelompok yang aktif dan kreatif, dengan motivasi serta bantuan dan penghargaan dari pihak struktural kampus.
Gagasan alternatif di atas, selanjutnya dapat diformulasikan dalam suatu bentuk sistem kerja, seperti KSK (Kelompok Studi Kreatif). Ia merupakan sebuah istilah bagi sebuah sistem yang jika telah diaplikasikan dalam kelompok-kelompok nyata, penamaannya dapat disesuaikan dengan kreasi masih-masing kelompok. KSK itu pada dasarnya, sebuah format yang dapat dikembangkan di mana dan oleh siapa saja, terutama kalangan mahasiswa dan insan akademis, dengan indikasi: “Semakin banyak yang mendirikan sistem semacam KSK, maka akan semakin baik bagi tumbuhnya persaingan yang sehat dan pembangunan budaya akademik yang semakin produktif dan kualitatif”.
Label: KSP